5 Penyakit Saraf Anak yang Sebaiknya Diwaspadai Orangtua

Penyakit saraf atau gangguan neurologis adalah kondisi saat sebagian otak atau sistem saraf tidak bekerja sebagaimana mestinya. Kondisi ini kemudian memengaruhi tumbuh kembang anak yang mengakibatkan gejala tertentu; baik secara fisik maupun psikologis, tergantung bagian otak dan saraf mana yang terganggu. Penyakit saraf termasuk kasus yang cukup banyak ditemukan pada usia anak-anak. Untuk mengenali jenis-jenis penyakit saraf pada anak, simak ulasan berikut ini.

Berbagai penyakit saraf pada anak

Berikut berbagai penyakit saraf yang bisa menyerang anak, yaitu:

1. Spina bifida

Spina bifida adalah kondisi kelainan yang terjadi ketika tulang belakang dan sumsum tulang belakang tidak terbentuk dengan sempurna. Kondisi ini merupakan bawaan sejak lahir dan bisa terjadi hingga anak memasuki usia sekolah.

Bayi dengan spina bifida biasanya mengalami kegagalan perkembangan tabung saraf sebagian atau tabung yang tidak menutup dengan benar. Akibatnya, tulang belakang dan sumsum tulang belakang bisa rusak. Tabung saraf adalah bagian dari embrio yang kemudian berkembang menjadi otak dan sumsum tulang belakang serta jaringan di sekitarnya.

Kondisi ini bisa saja ringan atau bahkan sangat parah, tergantung dari jenis kerusakan, ukuran, lokasi, dan komplikasi yang terjadi. Tanda dan gejala dari penyakit saraf yang satu ini tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya. Satu jenis spina bifida tergolong ringan dan anak tetap dapat tumbuh normal. Namun, jenis lainnya bisa menyebabkan kelumpuhan. Bahkan, gejalanya juga bisa berbeda-beda pada tiap anak.

Risiko anak mengalami spina bifida bisa meningkat karena ibu kekurangan asupan asam folat selama kehamilan, riwayat keluarga dengan spina bifida, dan konsumsi obat-obatan seperti asam valproat selama kehamilan.

2. Epilepsi

anak tidur sendiri

Epilepsi adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan kejang berulang. Biasanya kondisi ini disebabkan oleh aktivitas listrik yang tidak normal di otak akibat keturunan, cedera pada kepala, dan masalah pada otak. Pada anak, epilepsi bisa menyebabkan berbagai masalah pada kemampuan mengendalikan otot, kemampuan bahasa, hingga memori dan kemampuan belajar.

Epilepsi memiliki gejala yang cukup bervariasi tetapi biasanya kondisi ini ditandai dengan:

  • Hilangnya kesadaran
  • Gerakan tangan dan kaki yang tiba-tiba
  • Tubuh menjadi kaku
  • Gangguan pernapasan
  • Mata berkedip dengan cepat sembari menatap pada satu titik

3. Hidrosefalus

hidrosefalus
Sumber: Rumah Sakit Pusak Otak Nasional

Penyakit saraf pada anak yang berikutnya ialah hidrosefalus. Hidrosefalus adalah kondisi saat anak mengalami penumpukan cairan serebrospinal di rongga dalam otak. Akibatnya, kepala mengalami kelebihan cairan dan ukurannya membesar hingga akhirnya memberikan tekanan pada otak. Kondisi ini kemudian merusak jaringan otak dan menyebabkan berbagai gangguan fungsi otak.

Saat anak mengalami hidrosefalus, biasanya gejala yang terlihat seperti:

  • Ukuran kepala yang jauh lebih besar dibandingkan anak normal.
  • Adanya bagian lunak kepala yang menonjol (fontanel) di bagian atas.
  • Mata selalu tertuju kebawah.
  • Pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang buruk.
  • Muntah-muntah.
  • Keseimbangan menjadi tidak stabil.
  • Nafsu makan menurun drastis.
  • Lemah dan lemas tidak berdaya.
  • Kejang

4. Cerebral palsy

cerebral palsy adalah

Cerebral palsy adalah kelainan yang memengaruhi otot, saraf, gerakan, dan kemampuan motorik anak untuk dapat bergerak secara terkoordinasi dan terarah. Kondisi yang memiliki nama lain lumpuh otak ini umumnya disebabkan oleh kerusakan otak yang terjadi sebelum bayi dilahirkan.

Adapun berbagai gejala yang akan ditunjukkan saat anak mengalami cerebral palsy adalah:

  • Otot terlalu kaku atau lemah terkulai.
  • Kurangnya koordinasi otot.
  • Sering mengalami tremor atau gerakan tak sadar.
  • Gerakan yang dilakukan lambat.
  • Keterampilan motorik lambat seperti kemampuan duduk dan merangkak.
  • Mengalami kesulitan berjalan.
  • Produksi air liur berlebih dan memiliki masalah dalam menelan.
  • Mengalami kesulitan untuk mengisap atau mengunyah makanan.
  • Kemampuan bicara terlambat.

5. Autisme

stimming pada autisme

Autisme adalah kelainan neurologis dan perkembangan yang dimulai di masa kanak-kanak dan bertahan seumur hidup. Kondisi yang menyerang sistem saraf di otak ini membuat anak mengalami kesulitan untuk memahami dunia di sekitar mereka. Anak akan mengalami berbagai keterlambatan dalam berbicara, bermain, dan berinteraksi dengan orang lain.

Biasanya, anak yang mengalami autisme mengalami beberapa tanda yang bisa dilihat secara jelas seperti:

  • Tidak melakukan kontak mata saat Anda sedang berinteraksi dengannya.
  • Tidak menanggapi ketika dipanggil.
  • Mengeluarkan suara-suara untuk menarik perhatian Anda.
  • Tidak memiliki ketertarikan untuk berinteraksi dengan orang lain.
  • Mengalami kesulitan untuk mengutarakan sesuatu.
  • Tidak mengerti arahan atau petunjuk yang Anda berikan.

Berbagai penyakit saraf pada anak ini bisa segera ditangani sedini mungkin jika Anda mencurigai ada pada si kecil lewat gejala yang ditimbulkan. Dengan penanganan dini, dokter akan merekomendasikan berbagai pengobatan dan terapi yang bisa membantu menunjang perkembangan dan pertumbuhannya.

The post 5 Penyakit Saraf Anak yang Sebaiknya Diwaspadai Orangtua appeared first on Hello Sehat.

Original Article