Bayi Berhenti Bergerak Dalam Kandungan: Mana yang Masih Normal, dan Mana yang Bahaya?

Ibu bisa merasakan kehadiran janin ketika ia mulai menendang dalam kandungan, walaupun kadang terasa menyakitkan. Janin yang aktif bergerak merupakan tanda bahwa janin dalam keadaan yang sehat. Biasanya, janin suka menendang di usia kehamilan 18-22 minggu. Dan, setelah itu mungkin pergerakan janin yang ibu rasakan bisa berkurang. Namun, jika janin tiba-tiba berhenti bergerak di dalam kandungan, tentu hal ini membuat ibu khawatir. Mengapa janin berhenti bergerak?

Berbagai penyebab janin berhenti bergerak

Jangan khawatir dulu, bu. Meski pada umumnya janin bisa terus bergerak kurang lebih sepuluh kali dalam 12 jam, kadang ia akan berhenti bergerak. Ini adalah hal yang normal. Namun, jika pergerakan janin berhenti dalam waktu terlalu lama, mungkin Anda harus memeriksakannya ke dokter.

Berikut ini beberapa penyebab janin berhenti atau jarang bergerak saat memasuki trimester ketiga:

1. Posisi bayi

Hal ini juga dapat memengaruhi seberapa besar ibu bisa merasakan pergerakan janin. Jika posisi janin berada mendekati tulang belakang ibu, mungkin gerakan yang dibuat janin tidak sampai ke perut ibu sehingga ibu kurang bisa merasakannya. Namun, seiring dengan perkembangan janin yang bertambah besar, ibu mungkin makin bisa merasakan tendangan janin.

2. Janin tidur

Ya, janin juga mempunyai jam tidur sejak masih dalam kandungan. Janin tidur biasanya berlangsung selama 20-40 menit atau lebih (tapi tidak lebih dari 90 menit). Saat janin tidur, tentu janin tidak bergerak. Jadi, Anda tidak perlu khawatir jika selama waktu ini Anda tidak dapat merasakan pergerakan janin.

3. Ibu stres atau masalah nutrisi

Saat ibu stres, hormon stres dilepaskan oleh tubuh ibu. Dan, ini bisa memengaruhi jumlah pergerakan janin. Janin mungkin akan bergerak lebih sedikit. Selain itu, dehidrasi atau puasa (atau ibu membatasi asupan makannya) juga dapat menyebabkan pergerakan janin menjadi menurun. Hal ini karena makanan yang ibu makan memberi energi pada janin untuk bergerak.

4. Janin mengalami keterbatasan pertumbuhan

Keterbatasan pertumbuhan dalam rahim dapat dilihat dari ukuran janin yang lebih kecil dari ukuran janin normal pada usia kandungan sama. Janin yang kecil mungkin melakukan gerakan yang sama jumlahnya dengan janin normal, tapi mungkin ibu tidak bisa merasakannya.

5. Ketuban pecah dini

Air ketuban membuat janin bisa bebas bergerak di dalam kandungan. Namun, jika air ketuban makin lama makin sedikit (seperti saat usia kandungan sudah mendekati waktu kelahiran) atau jika ketuban pecah dini, hal ini dapat membatasi pergerakan bayi. Ketuban pecah dini bisa menyebabkan masalah pada janin.

6. Hipoksia

Hipoksia merupakan kondisi saat janin mengalami kekurangan oksigen. Hal ini bisa disebabkan oleh tali pusar janin yang tertekuk atau terlilit, sehingga oksigen tidak bisa diantarkan dengan baik ke janin. Hipoksia bisa menyebabkan efek jangka panjang pada otak dan perkembangan janin secara keseluruhan. Saat janin mengalami hipoksia, biasanya janin mengurangi atau menghentikan gerakannya untuk menghemat energi.

7. Abrupsio plasenta

Abrupsio plasenta adalah kondisi di mana plasenta terpisah dari dinding rahim. Pada kasus yang parah, hal ini dapat membatasi aliran oksigen dan nutrisi ke janin. Jika dibiarkan, hal ini tentu dapat menyebabkan janin meninggal dalam rahim. Sehingga, jika abrupsio plasenta terjadi, janin harus segera dilahirkan, terlebih jika usia kandungan sudah besar.

8. Janin meninggal dalam kandungan (bayi lahir mati)

Bayi lahir mati bisa terjadi setelah usia kandungan lebih dari 20 minggu, tapi biasanya lebih sering terjadi pada usia kandungan 28 minggu. Menurut American Pregnancy Association, 50% ibu yang melahirkan bayi lahir mati mengalami tanda-tanda penurunan pergerakan janin secara bertahap selama beberapa hari sebelum bayi meninggal dalam kandungan.

Segera periksa ke dokter jika merasa pergerakan janin berubah

Jumlah gerakan yang dibuat janin mungkin bisa berbeda-beda antar janin. Janin yang normal biasanya dapat membuat 10 gerakan selama dua jam atau kurang pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih. Jika Anda merasa khawatir pergerakan janin menurun, sebaiknya istirahat, minum air, dan makan (terutama makanan manis). Hal ini dapat memberi energi pada janin untuk bergerak.

Namun, jika janin berhenti bergerak dalam waktu lama, mungkin Anda perlu memeriksakannya ke dokter. Segera periksakan diri Anda ke dokter jika merasakan gerakan bayi tiba-tiba menurun atau berhenti dalam waktu yang lama. Penanganan dini mungkin dapat menghindari terjadinya bayi lahir mati atau hal lain yang tidak diinginkan.

The post Bayi Berhenti Bergerak Dalam Kandungan: Mana yang Masih Normal, dan Mana yang Bahaya? appeared first on Hello Sehat.

Original Article

Add Comment