Benarkah Kemoterapi Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung?

Kanker merupakan jenis penyakit yang memerlukan pengobatan yang agresif dan memiliki efek samping. Sedikitnya terdapat empat jenis metode pengobatan penyakit kanker dan masing-masing di antaranya memiliki efek samping tersendiri. Salah satu metode pengobatan kanker adalah kemoterapi. Cara pengobatannya adalah dengan menggunakan obat dengan zat kimia tertentu. Meski tergolong cukup efektif, ada efek samping kemoterapi yang bisa mengkhawatirkan, yaitu risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler).

Bagaimana kemoterapi dapat menimbulkan kerusakan jantung?

Kemoterapi merupakan metode pengobatan kanker yang dilakukan melalui konsumsi oral (diminum), disuntik, menggunakan infus, atau penggunaan pada kulit. Obat kemoterapi mengandung zat kimia yang berperan dalam menghentikan pertumbuhan kanker dengan cara membunuh sel atau menghentikannya untuk membelah diri. Metode pengobatan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan kombinasi obat kemoterapi atau dilakukan bersamaan dengan metode pengobatan lainnya.

Kemoterapi bisa memengaruhi kesehatan jantung sejak pengobatan dimulai. Beberapa obat kemoterapi memiliki efek angiogenesis inhibitor yang menyebabkan hambatan dalam pembentukan sel pembuluh darah yang baru. Hal tersebut meningkatkan kerusakan pembuluh darah yang bersifat menetap seiring berjalannya waktu dan semakin seringnya pengobatan dilakukan. Kerusakan pada pembuluh darah dapat meningkatkan tekanan darah yang berakibat pada hipertensi, aterosklerosis akibat penyumbatan keping darah, hingga kejadian gagal jantung.

Di samping hal tersebut, efek samping kemoterapi lain yang bisa terjadi yaitu gangguan irama jantung. Hal ini mungkin menyebabkan pasien kehilangan kesadaran (pingsan) saat menjalani sesi kemoterapi. Obat lainnya juga diketahui dapat menyebabkan kram arteri koroner dan menyebabkan serangan jantung.

Selain itu, munculnya penyakit kardiovaskuler pada seseorang yang menjalani kemoterapi juga dapat disebabkan oleh:

  • Pengobatan dengan kombinasi obat kemoterapi.
  • Usia, di mana usia muda dan lansia lebih berisiko mengalami penyakit jantung yang dipicu oleh kemoterapi.
  • Memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya.
  • Terkena radiasi pada tubuh bagian atas atau sekitar dada. Meskipun hanya terpapar dalam dosis yang sedikit, kombinasi kemoterapi dan paparan radiasi sangat berbahaya bagi jantung.

Obat kemoterapi yang memiliki efek samping terhadap kesehatan jantung

Tidak semua obat kemoterapi dapat menimbulkan kerusakan pada jantung. Berikut beberapa jenis yang diketahui memiliki efek samping tersebut:

  • Obat-obatan anthracyclines seperti doxorubicin dan epirubicin diketahui dapat menyebabkan kerusakan jantung dan pembuluh darah dalam penggunaan jangka lama.
  • Trastuzumab (Herceptin) dan pertuzumab (Perjeta) dapat melemahkan otot jantung dan kerusakan pembuluh darah.
  • Mitoxantrone (Novantrone), paclitaxel (Taxol), dan cyclophosphamide (Cytoxan, Procytox) diketahui memiliki efek samping gagal jantung.
  • Taxane dapat mengganggu irama jantung dan menyebabkan kondisi aritmia dalam jangka pendek.
  • Capecitabine (Xeloda) menyebabkan kram arteri koroner dan berisiko menyebabkan serangan jantung. Meskipun demikian, efek samping kemoterapi dengan obat ini cenderung bersifat jangka pendek dan kondisi jantung dapat membaik ketika berhenti melakukan pengobatan.

Gejala gangguan jantung dan pembuluh darah akibat efek samping kemoterapi

Segera laporkan ke dokter jika setelah menjalani kemoterapi muncul gejala sebagai berikut:

  • Gangguan irama jantung
  • Jantung berdetak kencang (takikardi)
  • Kesulitan bernapas
  • Batuk kering
  • Terjadi pembengkakan pada tangan atau kaki
  • Mengalami kelemahan
  • Timbul gejala gagal jantung kongestif

Gejala tersebut dapat muncul ketika seseorang sedang dalam sesi kemoterapi. Bisa juga gejala baru muncul setelah beberapa waktu dalam hitungan minggu atau bahkan bulan ketika rangkaian sesi kemoterapi selesai. Selain itu, perlu diingat bahwa kerusakan pada jantung yang ditimbulkan mungkin bersifat permanen (tidak bisa sembuh).

Bradikardia denyut jantung lemah merusak jantung

Apa yang dapat dilakukan oleh pasien dan keluarganya?

Memahami kondisi kesehatan jantung sebelum Anda menjalani pengobatan kemoterapi sangat perlu untuk dilakukan sebagai langkah deteksi dini dan penanggulangan penyakit jantung ketika menjalani kemoterapi.

Dokter mungkin akan menganjurkan penggunaan obat seperti dexrazoxane (zinecard) untuk melindungi jantung. Meminimalisir penyakit kardiovaskuler hanya dapat dilakukan dengan menyesuaikan dosis dan jenis obat kemoterapi ketika Anda mengalami gejala atau sudah memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler sebelumnya.

Selain itu, hindari faktor risiko penyakit kardiovaskuler seperti merokok ketika menjalani kemoterapi. Perhatikan munculnya kondisi seperti sulit bernapas panjang dan kenaikan berat badan secara tiba-tiba. Hal-hal tersebut bisa menjadi pertanda timbulnya penyakit jantung sebagai efek samping kemoterapi.

Akan tetapi, kabar baiknya Anda bisa mengurangi risiko efek samping kemoterapi, khususnya saat melakukan pengobatan, dengan beberapa upaya di bawah ini.

  • Konsumsi obat diuretik
  • Konsumsi obat yang berperan dalam mengatur detak jantung
  • Perubahan pola makan dengan menghindari makanan tinggi daram dan lemak
  • Terapi oksigen ketika mengalami sesak napas

The post Benarkah Kemoterapi Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung? appeared first on Hello Sehat.

Original Article