Kesuburan Pria Bisa Menurun Akibat Kurang Tidur

SehatFresh.com – Efek sering begadang ternyata lebih besar daripada yang kita duga. Tak cuma mengurangi produktivitas di siang hari, bahkan kurang tidur juga bisa menurunkan kesuburan pria. Hal ini berarti menurunkan peluang bagi Anda dan pasangan untuk segera memiliki momongan. Adapun alasan mengapa kurang tidur menyebabkan penurunan kesuburan adalah kadar testosteron yang rendah.

Sebagai hormon seks utama pria, testosteron berperang penting dalam hal-hal yang berkaitan dengan reproduksi pria. Salah satu faktor yang memengaruhi kadar testosteron adalah kecukupan tidur. Sejumlah penelitian pun telah menemukan kaitan antara testosteron dan masalah disfungsi seksual pria, serta bagaimana tidur berkontribusi terhadap dua hal tersebut.

Produksi testosteron berjalan optimal saat tubuh dalam keadaan istirahat penuh dan tidur tidak terganggu. Perubahan kadar testosteron terjadi secara alami di malam hari di mana sebagian besar testosteron yang digunakan setiap hari akan diisi ulang pada saat tidur. Proses ini perbaikan ini terjadi selama fase tidur REM (rapid eye movement), yakni fase di mana otot-otot tidak bergerak namun otak menjadi sangat aktif.

Kita memasuki fase tidur REM dalam 90 menit pertama setelah tertidur, dan seiring dengan siklus tidur yang bergantian, tidur REM juga terjadi beberapa kali setiap malam. Gangguan tidur dan kurang tidur dapat menyebabkan frekuensi memasuki fase tidur REM pun berkurang. Seiring waktu, gangguan tidur dan kurang tidur dapat menyebabkan peningkatan hormon stres yang disebut kortison, dan ini pada gilirannya memicu kadar testosteron menjadi rendah.

Testosteron rendah dapat menyebabkan jumlah sperma yang rendah. Bagian otak yang disebut hipotalamus dan kelenjar pituitari berperan dalam mengendalikan kesuburan pria. Hipotalamus menghasilkan gonadotropin-releasing hormone (GnRH) yang mengirimkan pesan ke kelenjar pituitari untuk menghasilkan dua hormon yang penting untuk kesuburan, yaitu luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). FSH berperan dalam pembentukan sel sperma, sementara LH memberitahu testis untuk memproduksi testosteron, yang dibutuhkan untuk produksi sperma.

Dalam penelitian tahun 2013 yang melibatkan 953 pria sehat di Denmark, ditemukan adanya hubungan antara gangguan tidur dan kualitas sperma. Para peneliti melaporkan bahwa pria pada kelompok gangguan tidur yang tinggi memiliki jumlah sperma 25% lebih rendah dan jumlah spermatozoa normal mereka secara morfologi lebih rendah 1,6% dibandingkan dengan pria pada kelompok tidur yang kurang terganggu.

Penelitian tahun 2016 dari Boston University yang melibatkan 695 pasangan juga menemukan adanya keterkaitan antara kurang tidur dan kesuburan pria. Dalam penelitian yang melibatkan pria berusia 21 tahun atau lebih dan wanita berusia 21-45 tahun yang sedang menjalani perawatan IVF tersebut, disimpulkan bahwa pria yang tidur dengan durasi kurang dari 6 jam atau lebih dari 9 jam memiliki peluang lebih rendah untuk memiliki anak dengan pasangan wanita mereka.

Kabar baiknya, penurunan kesuburan terkait kurang tidur masih dapat dipulihkan dengan mengoreksi pola tidur diimbangi dengan gaya hidup sehat lainnya. (RFZ)

Original Article