Mitos Tentang Bahaya Aspartam yang Sebenarnya Keliru

Sebagai pemanis yang rendah kalori, aspartam menuai banyak kontroversi. Berbagai berita mengenai bahaya aspartam, dari yang benar hingga yang keliru, banyak beredar di masyarakat. Mitos tentang aspartam bisa menimbulkan kesalahan persepsi dan membuat aspartam ditakuti secara berlebihan. Padahal, menurut penelitian aspartam justru memiliki manfaat untuk kesehatan.

Untuk menjawab kebingungan yang terjadi di masyarakat mengenai aspartam, saya akan membahas beberapa mitos aspartam yang cukup populer sekaligus memberikan fakta-fakta berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli di dunia medis.

Apa itu aspartam?

Aspartam merupakan pemanis yang mengandung asam amino asam aspartat dan fenilalanin. Sebagai pemanis rendah kalori, aspartam memiliki rasa manis 200 kali lebih kuat dibandingkan dengan gula biasa. Aspartam sangat rendah kalori. Aspartam bahkan telah digunakan dalam bahan makanan bebas gula dan minuman bersoda rendah kalori selama lebih dari 25 tahun.

a manis 200 kali lebih kuat dibandingkan dengan gula biasa. Aspartam sangat rendah kalori. Aspartam bahkan telah digunakan dalam bahan makanan bebas gula dan minuman bersoda rendah kalori selama lebih dari 25 tahun.

mitos bahaya aspartam pemanis buatan

Aspartam telah disetujui dan dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). Terkecuali jika Anda mengidap penyakit langka yaitu fenilketonuria, di mana tubuh tidak dapat mencerna asam amino fenilalanin yang ada di dalam aspartam. Penderita fenilketonuria harus menghindari makanan yang mengandung fenilalanin, termasuk aspartam, daging, kacang-kacangan, dan lain sebagainya.

Menurut Badan POM, batas maksimum konsumsi aspartam yaitu 50 miligram per kilogram berat badan (50 mg/ kg) per harinya. Ini berarti jika Anda memiliki berat badan 50 kg, maka batas maksimal aspartam per harinya sekitar 2.500 mg.

Berbagai bahaya aspartam yang ternyata cuma mitos

Berikut adalah beberapa bahaya aspartam yang ternyata cuma mitos plus fakta di baliknya.

1. Aspartam bisa menyebabkan kanker

Faktanya, National Cancer Institute di Amerika Serikat mengatakan tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan aspartam dengan kanker. Berbagai penelitian yang dilakukan pada hewan dan manusia tidak menunjukkan bukti bahwa aspartam bisa menjadi karsinogen (senyawa penyebab kanker).

Berdasarkan sejumlah besar penelitian yang dilakukan tentang keamanan aspartam, terbukti bahwa aspartam tidak mengakibatkan tumor maupun kanker pada tikus dan juga manusia selama percobaan berlangsung.

2. Aspartam mengakibatkan kerusakan otak

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa seseorang yang mengonsumsi aspartam berisiko mengalami kerusakan otak seperti tumor dan masalah lainnya.

Penelitian menunjukkan bahwa aspartam sama sekali tidak berpengaruh terhadap daya ingat otak. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa fenilalanin yang terdapat di dalam aspartam tidak masuk ke dalam otak, apalagi menyebabkan kerusakan otak. Sehingga hal ini menunjukkan aspartam aman dikonsumsi dalam takaran yang dianjurkan, tanpa menimbulkan kerusakan pada otak.

3. Aspartam tidak boleh dikonsumsi oleh pengidap diabetes

Mitos aspartam yang ketiga yaitu tidak dapat dikosumsi oleh orang dengan diabetes karena dapat menaikkan kadar gula darah. Faktanya, pengidap diabetes boleh minum atau makan-makanan yang mengandung aspartam. Bahkan takaran maksimal yang dianjurkan bagi orang diabetes sama dengan orang sehat pada umumnya, yaitu 50 mg/ kg berat badan per hari.

Mengapa begitu? Aspartam termasuk senyawa sangat rendah kalori yang tidak mengandung karbohidrat, sehingga apabila dikonsumsi tidak akan meningkatkan kadar gula darah di dalam tubuh.

Namun, yang perlu diperhatikan pada orang dengan diabetes adalah pola makan yang sesuai. Oleh karena itu, selain memilih pemanis rendah kalori yang cocok, sangat dianjurkan juga untuk mengonsultasikan pola makan yang tepat dan sesuai ke dokter gizi.

4. Aspartam bisa bikin gemuk

Mitos aspartam yang juga sering didengar adalah aspartam bisa membuat gemuk. Padahal, aspartam termasuk pemanis rendah kalori sehingga tidak meningkatkan berat badan. Namun, karena aspartam juga memiliki rasa manis seperti gula, hal ini bisa meningkatkan kebiasaan Anda untuk mengonsumsi makanan manis lainnya.

Mengonsumsi makanan manis dengan kadar gula tinggi lama-lama bisa menyebabkan kegemukan. Sehingga kebiasaan inilah yang bisa menyebabkan obesitas, tetapi bukan karena aspartam itu sendiri.

Nah, setelah mengetahui fakta-fakta medis di balik mitos aspartam, Anda tidak perlu takut lagi untuk mengonsumsinya. Selama Anda tidak mengidap penyakit fenilketonuria dan mengonsumsinya dalam takaran yang dianjurkan, aspartam tidak membahayakan tubuh dan kesehatan Anda.

The post Mitos Tentang Bahaya Aspartam yang Sebenarnya Keliru appeared first on Hello Sehat.

Original Article